Akronim dan Singkatan yang Sering Keliru dan Tertukar
6 Jan 2026
Add Comment
Oleh: Ihsan Subhan
Dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, kita sering menggunakan berbagai bentuk kependekan untuk mempercepat penyampaian informasi, baik dalam percakapan informal maupun dokumen resmi. Fenomena ini dikenal dengan istilah singkatan dan akronim, dua konsep yang kerap dianggap sama padahal memiliki perbedaan mendasar. Dalam bahasa Indonesia, bentuk-bentuk kependekan seperti KTP, SIM, Pemilu, atau LIPI sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi masyarakat modern. Namun, di balik kemudahan dan efisiensinya, masih banyak pengguna bahasa yang keliru memahami bagaimana kedua istilah ini bekerja dalam kaidah linguistik dan tata bahasa baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kekeliruan ini bukan hanya masalah sepele, tetapi juga mencerminkan rendahnya kesadaran berbahasa yang benar di tengah perkembangan teknologi informasi yang pesat.
Bahasa adalah cerminan logika berpikir penuturnya, dan kesalahan dalam memahami makna linguistik dapat memunculkan ambiguitas atau kekeliruan persepsi dalam komunikasi. Para ahli bahasa menegaskan bahwa akronim dan singkatan merupakan dua jenis proses morfologis yang berbeda: akronim dibentuk dengan menggabungkan suku kata atau huruf yang menghasilkan bunyi seperti kata baru, sedangkan singkatan hanya berupa kependekan dari huruf-huruf awal tanpa bisa dilafalkan sebagai satu kata utuh. Perbedaan ini, menurut pandangan ahli linguistik seperti Kridalaksana (2008) dan Alwi dkk. (2017) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, menjadi aspek penting dalam memahami bagaimana bahasa berkembang secara sistematis. Ketika batas antara keduanya diabaikan, maka bentuk bahasa menjadi kabur, dan kesalahan ini sering berulang bahkan dalam penggunaan di media massa, lembaga pemerintahan, hingga dunia pendidikan.
Lebih jauh, memahami perbedaan antara akronim dan singkatan tidak hanya penting dari segi linguistik, tetapi juga dari sisi sosial dan budaya bahasa. Dalam konteks masyarakat modern yang serba cepat dan digital, bentuk kependekan menjadi alat komunikasi yang efisien namun berpotensi menimbulkan distorsi makna jika tidak dipahami dengan benar. Misalnya, banyak orang menyebut “KTP” sebagai akronim, padahal secara fonetik dan morfologis itu termasuk singkatan karena dilafalkan huruf demi huruf. Di sisi lain, kata “pemilu” benar-benar akronim karena terbentuk dari suku kata pe-mi-lu yang dapat diucapkan seperti kata biasa. Oleh sebab itu, artikel ini berupaya mengulas secara mendalam tentang pengertian, perbedaan, dan kesalahan umum dalam penggunaan akronim serta singkatan, dengan merujuk pada pedoman resmi KBBI dan pandangan para ahli linguistik Indonesia.
Akronim dan Singkatan Menurut KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Singkatan adalah bentuk kependekan dari kata atau frasa berupa huruf atau gabungan huruf. Contohnya: DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), KKN, yth. (yang terhormat).
Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf, suku kata, atau unsur lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata seperti kata umum lainnya, misalnya ponsel dari telepon seluler atau pemilu dari pemilihan umum.
Intinya: Semua akronim termasuk singkatan, tetapi tidak semua singkatan adalah akronim. Perbedaan utamanya terletak pada cara pengucapan:
Singkatan dibaca huruf demi huruf. Akronim diucapkan seperti satu kata.
Kesalahan Umum dan Kekeliruan Istilah
Bahasa Indonesia sering mengalami penukaran makna atau istilah yang keliru antara akronim dan singkatan. Beberapa kekeliruan umum antara lain:
1. Menyebut Semua Singkatan sebagai Akronim
Banyak orang mengira semua kependekan yang populer adalah akronim, padahal beberapa dari itu hanyalah singkatan huruf. Contohnya:
Menyebut KTP sebagai akronim — Sebenarnya ini hanyalah singkatan karena dibaca K-T-P, bukan satu kata.
Menyebut BUMN sebagai akronim — Sebenarnya ini juga singkatan huruf, meskipun sering dilafalkan cepat.
Kesalahan ini muncul karena pengguna bahasa tidak memisahkan dengan tegas antara huruf huruf (initialism) dan kata utuh.
2. Akronim vs Initialism (Dalam Bahasa Inggris)
Dalam linguistik bahasa Inggris, istilah acronym dan initialism sering dibedakan:
Acronym: kependekan yang bisa diucapkan sebagai sebuah kata (mis. NASA, radar).
Initialism: kependekan yang diucapkan huruf per huruf (mis. USA, FBI).
Banyak penutur bahasa Indonesia menyamakan istilah ini karena di KBBI kedua konsep tersebut termasuk dalam istilah singkatan yang lebih luas. Namun dari sudut linguistik, perbedaan pelafalan ini penting untuk dipahami.
Contoh Kesalahan dan Fenomena yang Sering Tertukar
Berikut ini contoh kasus yang sering menyebabkan kebingungan dalam bahasa:
1. Akronim yang Menjadi Kata Baku
Beberapa akronim telah berevolusi menjadi kata umum sehingga tidak lagi dipahami sebagai singkatan:
Laser → awalnya singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation, tetapi sekarang digunakan seperti kata biasa.
Scuba → berasal dari Self-Contained Underwater Breathing Apparatus.
Fenomena ini sering membuat penutur bahasa lupa bahwa istilah tersebut awalnya akronim. Hal ini juga dialami dalam bahasa Indonesia dengan kata-kata seperti ponsel atau rudal.
2. RAS Syndrome (Pengulangan Redundan)
Dalam linguistik, ada istilah RAS syndrome (Redundant Acronym Syndrome), yaitu ketika seseorang mengulang salah satu kata yang sudah terkandung dalam singkatan. Misalnya:
ATM machine → artinya automated teller machine machine.
PIN number → artinya personal identification number number.
Contoh ini sering terjadi karena penutur tidak menyadari bahwa singkatan tersebut sudah memuat makna yang dipertegas oleh kata tambahan yang diulang.
Pendapat Ahli Linguistik
Para ahli linguistik sepakat bahwa:
a. Akronim adalah bagian dari singkatan
Menurut ahli linguistik, istilah akronim secara teknis adalah bentuk khusus dari singkatan yang memenuhi syarat pelafalan sebagai kata. Banyak ahli juga membedakan istilah ini dari initialism agar lebih jelas dalam deskripsi bahasa.
b. Kekeliruan Penggunaan Muncul dari Kebiasaan
Dalam praktik komunikasi sehari-hari, orang sering mengaburkan batas istilah ini karena tekanan kebutuhan komunikasi cepat, terutama dalam media sosial atau pesan singkat. Hal ini membuat istilah seperti singkatan huruf sering dipakai seperti akronim tanpa pedoman jelas.
Kesimpulannya, akronim dan singkatan merupakan dua bentuk kependekan yang memiliki fungsi penting dalam mempercepat komunikasi dan efisiensi berbahasa, tetapi keduanya tidak dapat disamakan secara istilah maupun fungsi linguistik. Berdasarkan penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan para ahli seperti Kridalaksana (2008) serta Alwi dkk. (2017), singkatan adalah kependekan yang dibaca huruf demi huruf, sedangkan akronim merupakan hasil penggabungan huruf atau suku kata yang diucapkan sebagai satu kata utuh. Pemahaman yang keliru antara keduanya sering terjadi karena kebiasaan masyarakat yang cenderung praktis dan kurang memperhatikan kaidah morfologis dalam bahasa. Akibatnya, muncul kekacauan istilah seperti menyebut “KTP” sebagai akronim, atau menciptakan bentuk baru yang tidak sesuai dengan kaidah ejaan dan pelafalan bahasa Indonesia yang baku.
Dari sisi perkembangan bahasa, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus berubah mengikuti kebutuhan sosial, teknologi, dan budaya komunikasi manusia. Namun demikian, perubahan tersebut tetap harus diimbangi dengan pemahaman ilmiah dan kesadaran berbahasa yang benar, agar bahasa Indonesia tetap terjaga kemurnian dan ketertataannya sebagai bahasa persatuan. Melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep akronim dan singkatan, masyarakat diharapkan dapat menggunakan bentuk-bentuk kependekan secara tepat sesuai konteks dan aturan linguistik. Dengan demikian, kesalahan penafsiran maupun penyalahgunaan istilah dapat diminimalisir, dan bahasa Indonesia dapat terus berkembang secara modern tanpa kehilangan kaidah bakunya.

0 Response to "Akronim dan Singkatan yang Sering Keliru dan Tertukar"
Posting Komentar
tulis komentar anda yang paling keren di sini