Puisi Goenawan Mohamad

Puisi Goenawan Mohamad


PUISI GOENAWAN MOHAMAD - Membaca puisi Goenawan Mohamad sama seperti membaca kehidupan manusia sehari-hari. Goenawan Muhamad dengan apik menulis puisi-puisinya berdasarkan pengalamannya melihat keadaan alam sekitar dengan potret aktifitas human di dalamnya. 

Tidak hanya itu, Goenawan Mohamad sangat lihai memainkan diksi-diksi yang berasal dari alam semesta, yang diramu kebanyakan menggunakan majas personifikasi. Setiap benda-benda itu kemudian dimasukan ruh kata, agar benda itu menjelma sebagai bentuk sifat-sifat manusia.

Oleh karena alasan puisi Goenawan Mohamad-lah, saya menyukai puisi, hingga puisi dengan sangat mudahnya saya tulis, dengan menggunakan metode-metode khusus yang dipakai Goenawan Mohamad. 

Puisi Goenawan Mohamad, bisa dikatakan sebagai medium dan tools bagi saya untuk mempelajari puisi-puisi yang kental dengan majas personifikasi, selebihnya, saya sering menemukana metafora dalam puisi-puisinya. 

Kali ini, saya tidak akan menganalisa puisi Goenawan Mohamad, tetapi saya akan sedikit berbagi puisi-puisi yang ditulis Goenawan Mohammad, yang pernah saya baca dalam buku puisi Asmarandana karya Goenawan Mohamad. 

Puisi Goenawan Mohamad     


DI MUKA JENDELA


Di sini

cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.

Di sini

kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil

ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah

diucapkan ke ruang yang jauh: -- Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah

dari tanah padang-padang yang tengadah
tanah padang-padang tekukur

di mana tangan-hatimu terulur. Pula

ada menggasing kincir yang sunyl

ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:

Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,

sajak bisu abadi,

dalam kristal kata

dalam pesona?

1961


SURAT CINTA


Bukankah surat cinta ini ditulis
ditulis ke arah siapa saja

Seperti hujan yang jatuh rimis

menyentuh arah siapa saja

Bukankah surat cinta ini berkisah

berkisah melintas lembar bumi yang fana

Seperti misalnya gurun yang lelah
dilepas embun dan cahaya

1963


BERJAGA PADAMUKAH
LAMPU-LAMPU INI, CINTAKU


Berjaga padamukah lampu-lampu ini, cintaku
yang memandang tak teduh lagi padamu
Gedung-gedung memutih memanjang
membisu menghilang dari sajakku

Tapi kita masih bisa mencinta, jangan menangis

Tapi kita masih bisa menunggu. Raja-raja akan lewat
dan zaman-zaman akan lewat

Sementara kita tegak menghancur 1000 kiamat

1963


GEMURUH LAUT MALAM HARI


Gemuruh laut malam hari adalah gemuruh cemara
di siang, di padang-padang
Bertahan sepi antara daun dan cabang

Dan sepi itu satu saja, satu suara
tak menyebut nama-nama

Gemuruh laut malam hari adakah ia cinta
gemuruh angkasa

gemuruh kereta-kereta larut senja?
Barangkali seseorang memandang jauh di sana

Tapi tak ada pernah menyapa: Hanya angin yang
turun di bahunya

1964


LANSKAP


Saya di sini bukan untuk jejak hujan
yang panjang. ‘T'api ada sebuah bangkai
yang terlipat dalam lumpur. Dan
seekor burung bertengger di atasnya.

Saya di sini bukan untuk alam

yang rongsokan. Tapi ada seekor anjing
yang menghirup udara busuk, lalu meraung
dan ulat-ulat berbaris di kakinya.

Apakah waktu sebetulnya,

apakah duka. Di bangkai itu berkilau
arloji; berdetik saja ia

sejak tadi.

1976


PAGI


Gerimis seperti jarum-
jarum jatuh. Pada seng
dan subuh, seribu gugur
dari sebuah jam yang jauh

Kelelawar pun menjerit
luka; tertusuk

pada matanya. Aku telah lihat darahnya

Dan bayang pada lari
meskipun tak ada tempat
sembunyi. Meskipun tak ada
tempat sembunyi.

1976


Biografi Singkat Goenawan Mohamad


Goenawan Mohamad dilahirkan di Batang (Jawa Tengah) 29 Juli 1941. Mengikuti pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1960-1964), di College d'Europe, Brugge, Belgia (1965/1966). Di tahun 1989-1990 mendapat fellowship di Universitas Harvard, Amerika Serikat. 

Ia pernah menjadi wartawan Harian Kami (1966-1970), anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971), pemimpin redaksi majalah Ekspres (1970-1971), anggota Badan Sensor Film (1969-1970), redaktur Majalah Horison (1967-1972), dan pemimpin redaksi majalah Zaman (1979-1985).

Penanda tangan "Manifes Kebudayaan" ini pernah menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1973),
Hadiah Sastra ASEAN (1981), dan Hadiah A. Teeuw (1992).

Karyanya: Pariksit (kumpulan sajak, 1971), Potret Seorang Penyair Muda sebagai st Malin Kundang (kumpulan esei, 1972), Interlude (kumpulan sajak, 1973), Seks, Sastra, Kita (kumpulan esel, 1980), dan Catatan Pinggir 1, 2 dan 3 (kumpulan esel, 1982, 1989, dan 1991). 

Sejak tahun 1971 hingga sekarang 1a menjadi pemimpin redaksi majalah Tempo. 

Penutup 


Puisi Goenawan Mohamad selalu menjadi tempat terbaik bagi para penyair yang tengah belajar menulis puisi. Dahulu kala saya pun sering belajar menulis puisi dari membaca puisi-puisinya Goenawan Mohamad. 

Demikian beberapa puisi Goenawan Mohamad yang saya persembahkan untuk pembaca semuanya. Semoga bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi dan pembelajaran menulis puisi dengan metode menulis puisi dengan menggunakan majas personifikasi. Salam, Ihsan Subhan. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi Goenawan Mohamad"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel