Puisi Tema Perjuangan Karya WS Rendra, Spesial HUT Kemerdekaa RI

Penyair WS Rendra


Dalam rangka mengisi dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT Kemerdekaan RI), sudutkerlip.com hanya bisa berpartisipasi dengan menghadirkan puisi-puisi yang bertemakan perjuangan dan kepahlawanan, atau kemerdekaan RI.

Puisi-puisi yang akan diterbitkan adalah puisi-puisi karya penyair nasional WS Rendra, dengan judul; Gugur, Lagu Serdadu, Gerilya, Lagu Seorang Gerilya, dan Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang.

Sebelumnya pun saya sempat mempublikasikan puisi WS Rendra dengan tajuk "Sajak Joki Tobing untuk Widuri dan Sajak Widuri untuk Joki Tobing". Bagi yang belum pernah membaca puisi tersebut bisa baca di postingan sudutkerlip.com di tautan ini.

Puisi-puisi sudah saya pilihkan adalah puisi-puisi populer karya WS Rendra yang sudah sering kita baca, bahkan diantaranya sering kita dapatkan dalam buku pelajaran sekolah. Selain itu puisi-puisi WS Rendra juga sering digunakan dalam acara perlombaan baca puisi, terutama sering dijadikan materi atau teks lomba baca puisi pada HUT Kemerdekaan RI.

Berikut puisi-puisi goresan pena penyair WS Rendra dengan tema perjuangan spesial HUT Kemerdekaan RI;

GUGUR

Ia merangkak
diatas bumi yang dicintainya
tiada kuasa lagi menegak
telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
diatas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka dibadannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
diantaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
diatas bumi yang dicintainya
belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya
ketika anaknya memegang tangannya
Ia berkata :

"Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah,
dan akupun berasal dari tanah
tanah ambarawa yang kucinta
kita bukanlah anak jadah
kerna kita punya bumi kecintaan.
bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah
bumi kita adalah kehormatan
bumi kita adalah jua dari jiwa
ia adalah bumi nenek moyang
ia adalah bumi waris yang sekarang
ia adalah bumi waris yang akan datang."

Hari pun berangkat malam
bumi berpeluh dan terbakar
kerna api menyala di kota ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar!
wahai bumi yang indah
kita akan berpelukan buat selama-lamanya!
nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata : 
"Alangkah gemburnya tanah disini!"

Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya


Lagu Serdadu

Kami masuk serdadu dan dapat senapan
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami cmpur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
wahai, tanah yang baik untuk mati
dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia baga puteraku di rumah


GERILYA

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Dengan tujuh lubang pelor
di ketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya


Lagu Seorang Gerilya

Engkau melayang jauh, kekasihku
engkau mandi cahaya matahari
aku disini memandangmu
menyandang senapan berbendera pusaka

Diantara pohon-pohon pisang dikampung kita yang berdebu
engakau berkudung selendang katun di kepalamu
engkau menjadi saatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu

Malam bermandi cahaya matahari
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara
didalam hutan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menyapa pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku
maka disaat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakek ku yang telah gugur
didalam berjuang membela rakyat jelata


Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang

Tuhanku'
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris diatas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhanku'
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
dosa dan nafasku
adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
sementara ku lihat kedua lenganMu yang capai
mendekap bumi yang menghianatiMu

Tuhanku
erat-erat kegenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku  


Demikian tadi puisi-puisi WS Rendra dengan tema perjuangan yang saya persembahkan di sudutkerlip.com. Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi Tema Perjuangan Karya WS Rendra, Spesial HUT Kemerdekaa RI "

Post a Comment

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel