Biografi Singkat Umbu Landu Paranggi

Penyair Indonesia Umbu Landu Paranggi

Prolog

Sekilas tentang Umbu Wulang Landu Paranggi, seorang penyair Indonesia yang tentu saja bagi saya secara pribadi sangat berjasa, sebab beliau sempat memotivasi saya ketika saya tengah tekun belajar puisi dan menulis puisi di media cetak.

Kemudian saya termotivasi oleh Umbu, karena puisi saya sempat dipublikasikan oleh Umbu di media cetak koran  Bali Post. Saya menyadari bahwa puisi saya waktu itu kurang begitu baik, karena ada beberapa diksi yang (mungkin) dengan sengaja diubah atau diganti/diedit oleh Umbu, meski tidak begitu banyak kata yang diubah, namun saya sangat mengapresiasi beliau dalam menelaah puisi, karena setelah saya membacanya, puisi saya menjadi lebih baik dan hidup dari sebelumnya.

Dari publikasi puisi saya di Bali Pos itu lah, saya menjadi termotivasi lagi untuk menulis puisi yang lebih kreatif, teratur, dan sarat makna, dan alat-alat lainnya yang membentuk puisi itu menjadi lebih indah dari biasanya. 

Selebihnya, saya sangat menyesal sekali belum sempat bertemu dengan beliau. Dulu saya sering menanyakan kabar beliau melalui kawan penulis saya di Bali bernama Mira Antigone, dan sesekali sering mendengar kabar beliau dari WA Group sastra yang kebetulan ada penyair kesukaan saya juga yaitu Wayan Jengki Sunarta. Namun kami tidak dekat. Kedekatan kami hanya dalam karya, dan sering satu buku di Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, dan kegiatan-kegiatan sastra. Dan berikut di bawah ini pun sekilas cerita tentang perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi, yang ditulis penyair Wayan Jengki Sunarta, dan tentu saja saya sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Bli Wayan untuk mempublikasikan artikel yang beliau tulis ini.  

Tentang Umbu Wulang Landu Paringgi 

Umbu Wulang Landu Paranggi, lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943, dari pasangan Umbu Domu Marahongu dan Rambu Nai Djati. Umbu menikmati masa kanak-kanak di kampung halamannya, bermain bersama kawan-kawan sebaya, mengembalakan kuda di padang sabana, mendengar dongeng nenek sebelum tidur. 

Bakat seni Umbu mengalir dari neneknya yang ahli bermain jungga (gitar khas Sumba), ahli menari, dan mendongeng. Tamat SD, Umbu melanjutkan sekolah di SMP Kristen Waikabubak, Sumba Barat, jauh dari kampung halamannya. Jiwa petualangan Umbu telah terbit sejak kanak-kanak.

Ketika SMP, Umbu mengagumi ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara. Kata “taman” telah menyihir pikiran remajanya. Setelah lulus SMP, Umbu bertekad melanjutkan sekolah di Taman Siswa Yogyakarta. Namun, sayang sekali, Umbu terlambat mendaftar. Kapal yang membawanya ke tanah Jawa tertatih-tatih di lautan. Impiannya pun karam dalam pelayaran. Namun, Umbu tidak patah semangat. Ketika tiba di Yogyakarta, Umbu mendaftar di SMA BOPKRI I. 

Kegemaran Umbu menulis puisi yang telah tumbuh sejak SMP semakin bersemi di Yogyakarta. Saat SMA, Umbu menemukan seorang guru yang mendukungnya menulis puisi dan memengaruhi jalan hidupnya. Ibu Lasiyah Soetanto. Guru bahasa Inggris tersebut, banyak memotivasi Umbu untuk mengirimkan puisi-puisinya ke media massa. Belakangan kemudian guru yang visioner itu diangkat menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia.

Setelah lulus SMA, ayahnya meminta Umbu melanjutkan kuliah di Kedoteran Hewan. Namun, dengan alasan tidak kuat dalam ilmu hitung-menghitung, Umbu memilih jalan lain. Ia kuliah di Jurusan Sosiatri, Fakultas Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Hukum, Universitas Janabadra. Konon, keduanya tidak ia tamatkan.

Di Yogyakarta, Umbu benar-benar “mabuk” puisi. Ia mengasuh ruang sastra di mingguan Pelopor Yogya yang bermarkas di Jalan Malioboro. Bersama kawan-kawan seperjuangannya, pada tahun 1969 Umbu memproklamasikan berdirinya komunitas sastra Persada Studi Klub (PSK). Pada masa itulah Umbu dijuluki sebagai Presiden Malioboro. Pelopor Yogya dan PSK rutin menggelar apresiasi sastra secara berpindah-pindah. Umbu seperti magnet yang menarik kegelisahan anak-anak muda. Pada masa itu, PSK melahirkan ratusan penyair yang tersebar di berbagai daerah. 

Pada tahun 1975, Umbu menghilang dari Yogyakarta. Ketika itu, tak ada yang tahu ke mana Umbu pergi. Ia seperti asap yang lenyap dalam udara. Belakangan kemudian diketahui, Sang Ayah memanggil Umbu pulang, menyuruh Umbu menikah dan mengurus kampung halaman. Umbu mematuhi titah ayahnya. Umbu kemudian menikah dengan Rambu Hana Hunggu Ndami, gadis yang sekampung dengannya. Dari pernikahan tersebut lahir tiga anak, yakni Umbu Domu Wulang Maramba Andang, Rambu Anarara Wulang Paranggi, dan Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi.

Namun, jiwa petualangan Umbu tidak bisa dikekang. Ia tidak betah berlama-lama di kampung halamannya. Maka, pada tahun 1978, Umbu memutuskan pergi ke Pulau Dewata, Bali. Jiwa seninya merasa menemukan kedamaian di Pulau Dewata. Umbu pun memutuskan menetap di Bali dan pada Juli 1979 ia bekerja mengasuh halaman sastra di koran Bali Post. Namun, pada periode awal di Bali tahun 1980-an, Umbu beberapa kali pulang ke Sumba menjenguk keluarganya.

Seperti yang dilakukannya di Yogyakarta, di ruang sastra Bali Post, Umbu membangun “taman” dan ia menjadi tukang kebunnya. Dengan setia, sabar, tekun, dan telaten, ia menyemai dan merawat benih-benih berbakat hingga tumbuh menjadi sosok-sosok yang dikenal dalam kesusastraan Indonesia. 

Umbu memang seorang pencari bakat dan motivator yang mumpuni. Ia selalu punya cara-cara unik untuk mendekati seseorang dan memperkenalkan dunia puisi kepada orang itu. Bahkan, Umbu tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih bergerilya ke berbagai pelosok Bali untuk menggerakkan kehidupan kesusastraan lewat kegiatan apresiasi yang dikenal dengan istilah “gradag-grudug puisi”.

Namun, Umbu sesunguhnya tidak bermaksud mencetak barisan penyair. Ia hanya memberikan sentuhan puisi kepada jiwa-jiwa yang gelisah menemukan jati diri. Bagi Umbu, menjadi penyair atau tidak adalah soal pilihan hidup. Umbu selalu menekankan, profesi apa pun yang ditekuni seseorang, maka wawasan dan apresiasi puisi semestinya hadir dalam jiwanya. Karena, menurut Umbu, puisi adalah kehidupan, dan kehidupan adalah puisi.

Sebagai penyair, sejak awal tahun 1960-an, puisi-puisi Umbu tersebar di banyak media massa, antara lain Mimbar Indonesia, Gadjah Mada, Basis, Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Majalah Pusara, Gelanggang, Pelopor Yogya, Bali Post, Jurnal CAK, Majalah Kolong. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi bersama, antara lain Manifes (1968), Tonggak III (1987), Teh Ginseng (1993), Saron (2018), Tutur Batur (2019). Umbu sendiri tidak memiliki antologi puisi tunggal yang merangkum keseluruhan karyanya. Ia merasa bahwa tugasnya hanyalah menanam dan membuat taman kesusastraan. Namun, disadari atau tidak, Umbu diam-diam menggurat puisi pada jiwa murid-muridnya.

Atas prakarsa sahabat karib Umbu, Tjie Jehnsen, pada tahun 2019 terbit sebuah buku tebal berjudul “Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”. Buku mewah tersebut berisikan kumpulan tulisan tentang kiprah Umbu dalam kesusastraan, foto-foto kenangan, dan juga sejumlah puisi Umbu. 

Dedikasi Umbu dalam bidang sastra sungguh tiada bandingannya. Umbu pantas dan layak menerima sejumlah penghargaan bergengsi. Pada tahun 2018, Umbu menerima “Anugerah Kebudayaan” dari Fakultas Ilmu Budaya Univestitas Indonesia dan penghargaan “Dharma Kusuma” dari Pemerintah Provinsi Bali. Pada 2019, Umbu dianugerahi penghargaan “Pengabdian pada Dunia Sastra” dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan dan penghargaan “Akademi Jakarta”. Tahun 2020, Umbu menerima penghargaan “Bali Jani Nugraha” dari Pemerintah Provinsi Bali dan “Anugerah Kebudayaan Nasional” dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sejak tahun 2014, tanpa peduli dengan usianya yang makin merangkak senja, Umbu selalu meluangkan waktunya mendampingi anak-anak muda yang gelisah menemukan jati diri di Jatijagat Kehidupan Puisi. Kepada anak-anak muda itu, Umbu sering menggumamkan dua patah kata yang serupa mantra: “tanam” dan “taman”. Dua patah kata filosofis yang mengandung kedalaman renungan. Dua patah kata yang menggetarkan jiwa. 

Namun, jalan hidup dan usia memang tidak bisa diduga, selalu mengandung misteri tersendiri. Dinihari 6 April 2021, dunia sastra Indonesia diguncang berita duka. Umbu wafat di rumah sakit Bali Mandara Sanur pada usia yang belum genap 78 tahun. Hujan air mata dan belasungkawa mengalir dari berbagai pelosok negeri mengiringi kepergian Umbu. Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang sastra. 

Hingga kini, Umbu masih beristirahat dalam Ruang Sunyi Kurukudu di Taman Makam Mumbul, Jimbaran, Bali. Meski secara fisik Umbu telah tiada, namun spirit dan semangatnya masih terus menyala dalam jiwa murid-murid dan para pengagumnya. Dua patah kata “tanam” dan “taman” akan terus meruang dan mewaktu, menjadi suatu keniscayaan. (Wayan Jengki Sunarta/Ihsan Subhan)

(foto Umbu Wulang Landu Paranggi: doc. tempo)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

15 Responses to "Biografi Singkat Umbu Landu Paranggi "

  1. Semoga bisa semakin banyak lahir generasi muda penerus dan semangat menebar karya dan ilmunya ditengah msyarakat seperti yang dilakukan umbu kepada orang-orang terdekat dalam karyanya.. Selamat Jalan dan karyanya tidak akan hilang dan akan selalu dikenang diseluruh penjuru Indonesia..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah Umbu sosoknya sangat populer sebagai pengasuh anak muda penyuka puisi.

      Delete
  2. Pas masih kuliah di Sastra, sudah pasti nama ini kerap kudengar hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya. Dan akan selalu terngiang yak, meski kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi karyanya sering bertemu dengan kita

      Delete
  3. Meski secara fisik Umbu telah tiada kehadirannya, namun semangatnya masih melekat dalam dunia sastra Indonesia ya. Semoga akan muncul Umbu Umbu yang lain sebagai pegiat sastra, seperti halnya yang dilakukan oleh beliau.

    ReplyDelete
  4. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, Presiden Malioboro, sastrawan yang menjadi guru banyak sastrawan muda, Umbu Landu Paranggi. Selamat jalan, karya luar baisanya pasti akan dikenangn. Semoga akan lahir penerus-penerusnya yang menyemarakkan dunia sastra Indonesia

    ReplyDelete
  5. pesastra hebat sudah menunjukkan bakat dan kemampuannya sejak muda. Seorang sastrawan yang menginspirasi. Pasti karyanya akan selalu dikenang dan menjadi sumber ilmu bagi sastrawan baru. Karyanya akan selalu hidup dan tak pernah mati

    ReplyDelete
  6. Umbu memiliki kiat khusus untuk menyebarkan sasta. Beliau tidak pantang menyerah dan terus membuat karya-karya hebat yang sangat menginspirasi banyak orang. Mudah-mudahan generasi mudah dapat mengikuti jejak beliau sebagai panutan yang akan senantiasa bersemayam dalam dada. Sudah tiada namun tetap hidup karya2nya.

    ReplyDelete
  7. Wah jadi tahu kalau ada sastrawan hebat begini. Sayang baru mengenal beliau setelah wafatnya.

    ReplyDelete
  8. Setiap kali mendengar ada penulis yang meninggal (apa pun jenis dan genre tulisannya), selalu terucap doa, semoga tulisan-tulisannya semasa hidup menjadi amal jariah.

    ReplyDelete
  9. Baru kenal nama beliau saat baca tulisan ini. ternyata saya masih kudet. Salut ya, memperjuangkan sastra, padahal mungkin tahun-tahun itu sastra dilihat mata sebelah saja. dan mungkin juga nggak dinilai dengan uang.

    ReplyDelete
  10. Saya mengetahui dan mengenal beliau melalui tulisan ini. Terimakasih mas, semoga semakin semangat memperkenalkan sastrawan sastrawan Indonesia. Semoga tulisan-tulisan beliau menjadi amal jariyah, aamiiin.

    ReplyDelete
  11. Wahh biografi Umbu menyetuh sekali kak. Keren banget kakak pernah berhubungan dengan beliau, apalagi naskahnya sampai di editori beliau. Aku iriii. Semoga suatu saat aku bisa seperti beliau ya, bisa menjadi inspirasi dan semangat bagi penulis lainnya.

    ReplyDelete
  12. Saya baru mengenal beliau melalui tulisan ini, luar biasa sepak terjang beliau dalam dunia sastra khususnya puisi

    ReplyDelete
  13. Keren yaaa sepanjang hidupnya beliau untuk seni, cinta dengan puisi, dan mengais rejeki di tempat para seniman mengabdi

    ReplyDelete

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel