Puisi-puisi Tentang Pahlawan, Memperingati Hari Pahlawan Nasional

Ilustrasi Hari Pahlawan Nasional


Dalam memperingati Hari Pahlawan Nasional, yang jatuh pada tanggal 10 November, saya akan mempersembahkan puisi-puisi tentang ke-pahlawan-an atau puisi-puisi hari pahlawan. 

Berikut di bawah ini adalah puisi-puisi yang ditulis oleh penyair-penyair nasional yang juga merupakan sastrawan besar dari Indonesia, seperti; Toto Sudarto Bachtiar, WS. Rendra, dan K.H. A. Mustofa Bisri  atau Gus Mus. Judul-judul puisinya pun beragam; Pahlawan Tak Dikenal, Gugur, Dongeng Pahlawan, Lagu Serdadu, dan Munir.

Diantara puisi-puisi tentang pahlawan di bawah ini, yang paling saya suka dan legendaris sekali adalah puisinya panyair Toto Sudarto Bachtiar dengan judul puisi "Pahlawan Tak Dikenal". Mengapa demikian, karena puisi tersebut sering saya bacakan pada saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar, dan jika saya mengikuti lomba baca puisi, pasti puisi yang wajib dibacakan adalah puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar.

Pahlawan tak Dikenal
Karya: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.

1953
Sumber: Siasat (1955)

GUGUR
Karya W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya.
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya.
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya.
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
“Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa.
Orang tua itu kembali berkata:
“Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata:
“Alangkah gembur tanah di sini!
Hari pun lengkap malam
ketika ia menutup matanya


Dongeng Pahlawan 
Karya W.S. Rendra

Pahlawan telah berperang dengan panji-panji
berkuda terbang dan menangkan putri.
Pahlawan kita adalah lembu jantan
melindungi padang dan kaum perempuan.
Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra.

Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba.
Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi
kerna pahlawan telah berkunjung di tiap hati.


Lagu Serdadu 
Karya W.S. Rendra

Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang.
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak!

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali.
Wahai, tanah yang baik untuk mati!
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukillah ia bagi putraku di rumah.

Kalah dan Menang 
Karya Sutan Takdir Alisjahbana

Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab kuputuskan, bahwa kemenangan sudah
pasti untukku saja. Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh bila terjatuh,
Yang menangis bila teriris,
Yang berjalan berputar-putar dalam belantara

Di padang lantang yang kutempuh ini,
aku tak mungkin dikalahkan:
Sebab disini jatuh sama artinya dengan bertambah
kukuh berdiri.
Tiap-tiap pukulan yang dipukulkan berbalik berlipat
ganda kepada sipemukul.
Malahan algojoku sekalipun yang akan menceraikan
kepalaku dari badanku, akan terpancung sendiri seumur
hidupnya:
Melihat mataku tenang menutup dan bibirku berbunga
senyum.

Munir 
Karya: K.H. A. Mustofa Bisri

Munir saja namamu
sederhana
namun mempunyai makna
menyinari

Dimasa kesederhanaan diabaikan
Kau membuktikan kekuatannya yang elegan
di masa para pengecut berlindung pada arogansi kekuasaan
kau tampul hampir sendirian melawan kelaliman

Bagaikan pahlawan dongeng yang menjelajah padang
mendaki gunung menuruni jurang
melawan para penjahat yang sewenang-wenang
dengan berani dan penuh kasih sayang
kau bela kaum yang lemah dan terbuang

Di tengah-tengah kemewahan yang pongah
kesederhanaanmu pun menjadi mewah
kemewahan yang dipamerkan
para pecundangpun menjadi menggelikan

Di tengah-tengah kekerdilan membungkus diri
dengan kekerasan dan rasa benci
kebesaranmu mengibarkan cinta kemanusiaan sejati

Di tengah-tengah kepengecutan yang kehilangan akal
keberanianmu pun menjadi anggun dan sakral

Tak ada yang dapat membendung dan menghentikanmu
kecuali Yang maha Kuasa, Tuhan dan sumber kekuatanmu

Bila iman adalah engkau, maka benarlah kata kiai
iman menjaga kemanusiaan dan nurani
tapi mengapa engkau dijemput terlalu pagi
mungkinkah pohon yang kau rawat selama iniakan bersemi?

(Oktober,2004)

Demikian puisi-puisi tentang Hari Pahlawan Nasional, yang sudah saya pilih untuk memeriahkan Hari Pahlawan Nasional yang selalu diperingati pada tanggal 10 November.

Sumber gambar: tirto.id 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi-puisi Tentang Pahlawan, Memperingati Hari Pahlawan Nasional"

Post a Comment

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel