Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono

Penyair Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono atau sering dipanggil SDD dilahirkan di Solo, pada tanggal 20 Maret 1940 dan mengakhiri hidupnya (meninggal dunia) pada tanggal 19 Juli 2020. Sebelumnya ia tinggal di Ngadijayan kurang lebih 500 meter dari rumah penyair WS Rendra, namun sewaktu kecil, Sapardi sama sekali tidak mengenal calon penyair WS Rendra.

Sapardi sering mengunjungi beberapa toko penyewaan buku di kotanya. Ia mengenal dunia rekaan yang diciptakan Karl May, Sutomo Djauhar Arifin, William Saroyan, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan lainnya.

Sapardi mulai menulis puisi sejak SMA kelas dua, dan waktu begitu cepat melesat. Sapardi melanjutkan belajarnya di Universitas Gajah Mada (UGM. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia suka bermain drama, main musik, dan siaran tentang sastra di radio. Selain itu Sapardi pun giat menerjemahkan karya sastra, dan menulis puisi.

Lulus dari UGM, Sapardi bergegas menikah dan bekerja sebagai guru di Madiun, Solo, dan Semarang. Sapardi sempat belajar di Amerika, lalu pindah ke Jakarta pada tahun 1973. Pada tahun 1973 ia membantu pembuatan dua film semi dokumenter bersama Australian Film Commision. Film tersebut dokumentasi tentang dampak modernisasi bagi kehidupan keluarga di Bali dan Solo, masing-masing selama dua bulan.

Sapardi sempat berpindah-pindah tempat, mondar-mandir Jakarta-Semarang selama hampir dua tahun hanya untuk mengajar di Universitas Diponegoro dan menjadi direktur pelaksana Yayasan Indonesia. Di Jakarta ia pun menghabiskan sebagian waktu bekerja di Majalah Horison, kemudian Sapardi menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra Universtas Indonesia (UI).

Perjalanan karir dan aktivitas bersastra tidak berujung di sana. Penyair Sapardi Djoko Damono pernah juga menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jasin. Ia pun pernah menjadi redaktur di majalah Basis di Yogyakarta, country editor untuk Tenggara, 'Jurnal Asia Tenggara' yang terbit di Kuala Lumpur, dan menjadi correspondent untuk Indonesia Cirlce; Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh School of Oriental and African Studies, University of London.

Setelah bekerja selama 20 tahun, Sapardi Djoko Damono mengundurkan diri dari majalah Horison, dan kemudian membantu jurnal Kalam; sebuah jurnal kebudayaan.

Bersama-sama Subagio Sastrowardojo, Umar Kayam, Goenawan Muhamad, dan Jhon H. McGlynn, ia mendirikan Yayasan Lontar, yang bergerak di bidang penerbitan terjemahan sastra Indonesia dalam bahasa Inggris. Bersama rekan-rekannya di Fakultas Sastra UI, Sapardi mendirikan Yayasan Puisi, yang menerbitkan jurnal puisi.

Meskipun sudah menerbitkan sajak-sajaknya di majalah sejak tahun 1957, Sapardi baru menerbitkan buku kumpulan sajak pada tahun 1969, bertajuk duka-Mu abadi. Penerbitan buku itu sepenuhnya ditanggung oleh Jeihan; seorang pelukis yang juga teman keluyurannya Sapardi Djoko Damono, dan kini pelukis Jeihan sudah wafat 29 November 2019 di Bandung.

Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Arab, Hindi, China, Jepang, Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, Bali, dan Jawa. Sejumlah sajak-sajaknya pun telah dibukukan dan diterbitkan di Tokyo pada tahun 1986 dalam bahasa Jepang sebagai bagian dari seri sastra dunia. Pada tahun 1988 kumpulan sajaknya diterbitkan dalam bahasa Inggris berjudul Suddenly the Night.

Kemahiran Sapardi Djoko Damono menulis puisi, ia banyak diundang baca puisi ke negara-negara Eropa, Asia, dan Australia. Salah satu sajak Sapardi Djoko Damono pernah dikutip oleh Perdana Menteri India  Narasimha Rao, dalam pidatonya di sebuat KTT Nonblok, ketika sejumlah (mantan) mahasiswanya menggunakan beberapa sajaknya untuk disusun menjadi nyanyian. Ketika salah satu sajaknya yang dinyanyikan itu dijadikan lagu tema dalam film Garin Nugroho Cinta dalam Sepotong Roti, dan saat bersamaan, sajak yang sama muncul pula di sejumlah kartu undangan pernikahan, kalender, poster, t-shirt, dan bloknote.

Sapadi Djoko Damono tidak sia-sia menulis puisi dalam bahasa Indonesia, karena ternyata ada saja yang membaca dan memanfaatkannya, meskipun terkadang ia bertanya, mengapa tidak menulis puisi dalam bahasa Jawa (bahasa ibunya).

Sapardi Djoko Damono dalam kegiatannya sebagai guru, telah menghasilkan gelar doktor dan guru besar, disamping beberapa jabatan struktural antara lain, Sapardi menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UI (!995-1999). Ia juga mengetuai bidang humaniora di Majelis Peneliti Pendidikan Tinggi dan menjadi anggota komisi Disiplin Ilmu Sastra dan Filsafat, Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. Setelah lama bergiat di DKI Jakarta, akhirnya Sapardi Djoko Damono menetap di Perumahan Dosen UI di Ciputat. 

Penghargaan keadap Sapardi Djoko Damono

Kegiatan Sapardi Djoko Damono dalam dunia tulis-menulis atau karang-mengarang telah banyak memberinya pengharagaan, yakni; Cultural Award (1978) dari Australia, Anugrah Puisi Putra (1983) dari Malaysia, SEA-Write Award (1986) dari Thailand, Anugrah Seni (1990) dari Pemerintah Republik Indonesia, Mataram Award (1985), Kalyana Kretya (1996) dari Menristek Republik Indonesia, Achmad Bakrie Award (Indonesia, 2003), dan ASEAN Book Award (2018). 

Buku Puisi Sapardi Djoko Damono

Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono terhimpun dalam banyak buku seperti; Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Suddenly the Night (1988), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2001), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002), Before Dawn (2005), Namaku Sita (2012), Dan Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012), Melipat Jarak (2015, kumpulan puisi 1998-2015)

Buku Fiksi Sapardi Djoko Damono (Cerpen dan Novel)

Selain puisi, Sapardi pun mengarang cerita-cerita fiksi yaitu; Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia Periode Awal (1870an - 1910an), Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen), Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen), Trilogi Soekram (2015; novel), Hujan Bulan Juni (2015; novel), Suti (2015, novel), Pingkan Melipat Jarak (2017; novel), Yang Fana Adalah Waktu (2018; novel), Sepasang Sepatu Tua (2019; kumpulan cerpen), Segi Tiga (2020; novel).

Buku Nonsastra Sapardi Djoko Damono 

Selain puisi dan cerpen, Sapardi Djoko Damono pun produktif menulis esai. Pemikirannya dituangkan ke dalam buku-buku yang sudah diterbitkan, seperti; Sastra Lisan Indonesia (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN, Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan Dimensi Mistik dalam Islam (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis. Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia (2004), salah seorang penulis. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Politik Ideologi dan Sastra Hibrida (1999), Priayi Abangan: Dunia Novel Jawa 1950 (2000), Pegangan Penelitian Sastra Bandingan (2005), Babad Tanah Jawi (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939), Bilang Begini, Maksudnya Begitu (2014), buku apresiasi puisi. Alih Wahana (2013), Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita (2011), Tirani Demokrasi (2014). 


Penulis/editor: Ihsan Subhan
Sumber foto: gramedia
Referensi bacaan: Tentang Diri Sendiri, dalam buku Ayat-ayat Api Sapardi Djoko Damono (2006), Wikipedia Indonesia, dan Wikipedia English.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono "

Post a Comment

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel