PUISI ESHA TEGAR PUTRA (KOMPAS, 30 JUNI 2013)



Tentang Mangkuto

Kota lama, kota hitam, malam selalu naik serupa bulan sempatbelas
kita memandang harilalu dari balik jatuhan kersik daun ampelas
ah, lambungku Mangkuto, di dalamnya serasa asam terus diperam.

Tapi aku serupa orang kena tenung, gerabah-gerabah berjatuhan dari
Pagu kepalaku, segala api dilarikan jauh dari mataku, siapa kaum yang
Membenamkan tinggam ke dalam ususku! Ah, lambungku Mangkuto
tuah siapa pula yang membuat nasi dingin ditelan serasa sekam tajam.

Kota lama, kota hitam, orang-orang berabad memasang perangkap
untuk menjatuhkan kida jantan, menggali lubang untuk merubuhkan
induk harimau, membangun kapal-kapal gadang buat menunggangi
air gila; tapi jantung-hati mereka terus dibuat remuk cerlang suasa.

Kandangpadati, 2013


Ombak Laut Sailan

Ombak laut sailan, sibakkan gerbang gelombang
sebab kibaran selempangku akan membuat langit gelap.

Dari pusar arus telah aku tunggangi belasan mambang, telah
aku suruh mereka memanggil segala angin segala dingin, aku
seraya mereka meruntuhkan tebing runcing segala pulau.

Dari gelanggang penyabungan ayam di Sungai Geringging
aku datang buat merompak urat jantung seseorang dari kaum
penggila selawat, kaum penggila nubuat.

“Nan Tongga, aku inginkan seekor nuri pandai bernyanyi
juga sehelai kain cindai berjambul kuning yang tak basah
direndam air, kain yang jika dikembangkan akan selebar
alam, yang jika dilipat seukuran kuku kelingkingku.”

“Tapi Gondoriah, telur burung di sarang manakah yang
telah menyembunyikan cindai seperti itu?”

Ombak laut Sailan, sibakkan pintu gelombang, berilah jalan
bagi para mambang. Maka aku akan tunai sebagai petualang.

Kandangpadati, 2013


Tentang Gondoriah

Telah kusesap pati pangkal tabu agar seketika memicingkan mata
aku tahu sedingin apa dasar terumbu. Aku panggil gelombang, aku
seru limbubu, aku tunggangi air gadang, ddan kubayangkan maut seakan
burung-burung dengan paruh bergetar dihisap samudra hitam.

Sebab tak kutakut berumah di pangkal pantai, tidak kukalut karang
membenam. Sebab pasang akan susut dan bulan jatuh ditutup awan.

Dendangkanlah lagu itu, lagu tentang beruk pandai berkecapi, tentang
siamang penabuh gendang dan tentang burung kuau dengan paruhnya
lihai menenun selendang.

Dan aku tahu, kelewang di pinggang akan patah dengan sendiri
kita akan menjerit untuk maut yang tak sudah. Maut yang terjepit
di antara pasak pintu hari depan dan pasak pintu hari lalu.

Kandangpadati, 2013


Pada Tunggul Terbakar Itu

Pada tunggul terbakar itu
aku temukan nasibku, Upik.

Seakan kudengar sayup-sampai suara tukang
dendang memainkan lagu tentang para pengilang
tebu di pinggang gunung Singgalang, tentang kuda
pacuan patah pinggang, tentang kisah anak dagang
hidup bergantungan dari kemarahan induk semang

Hari ke hari adalah patahan nasib baik
seranting demi seranting, dan aku terus
membayangkan ke depan adalah mimpi buruk

Beri aku dendang lain, Upik. Tak ada
maut, tak ada pendakian, tak ada segala
yang buruk. Tapi tunggul terbakar
itu terus aku temukan nasibku.

Hari baru barangkali seperti kehendak ingin
ke pasar, membeli seulas kain, lantas
menghantarkannya ke tukang jahit. Hari baru
lebih serupa baju baru, sebab kain lamaku
serasa kian tipis di badan, berhujan-berpanas
terus dibiarkan melekat seperti itu.

Beri aku dendang lain, seperti tarian selendang
atau gamad orang seberang dengan lagu
berkasih sepanjang hayat. Oh, telah aku temukan
nasibku di tunggul terbakar itu, Upik. Nasib
tunggul kayu berurat singkat, tidak lagi menancap
tak lagi menggapai.

Kandangpadati, 2013


Lumut Suliki Hijau Sutera

Aku ke pasar raya mengasah batu lumut Suliki
corak hijau sutera pemberian seorang kerabar dari darek.

Cincin perak seperti biji petai membuat mataku
rusuh di cerlang kilauannya. “Engkau berdada panas,
Tuan. Dudukkan batu lumut Saliki itu dekat dengan
kulit di jari manis, jangan beri jarak sehelai rambutpun,”
seorang pandai perak dalam dialek Kotagadang
menggoda membeli dagangannya berbagai cara.

“Engkau sungguh gaga, Uda. Mataku dingin
memandangmu, jantungku roboh menghadapimu.”

Berbilang hari kami jalan seiring dan kini
kubayangkan kekasih jantung-hatiku akan
memuji setelah cincin lekat di jari.

“Asahkan bapak, aku beli cincin perakmu, dudukkan
Batuku ke liang seperti biji petai itu!”

Kandangpadati, 2013



Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera
Barat, 29 April 1985. Kini, ia mengajar di Jurusan
Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PUISI ESHA TEGAR PUTRA (KOMPAS, 30 JUNI 2013)"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel