Menyoal Cita-Cita, Puisi, dan Proses Kepenyairan




Oleh: Ihsan Subhan

Sewaktu kecil dulu. Di masa anak-anak, sering kita diberi penjelasan mengenai masa depan. Cita-cita, pekerjaan, profesi, dan lainnya. Pada saat itu banyak anak yang ingin menjadi Polisi, Dokter, Perawat, Tentara, dan Guru. Kewajaran dari sempitnya pemikiran anak-anak tersebut menyebabkan, cita-cita mereka baik secara spontanitas maupun diarahkan oleh guru dan atau orang tua mereka. Berakibat anak hanya memandang cita-cita, harapan, atau mimpinya setelah dewasa nanti akan menjadi seperti itu. Padahal banyak sekali profesi yang ada di negara kita. Mulai dari tukang, sampai pejabat negara. 
Seringkali saya bertanya. Kenapa mereka tidak diarahkan atau diberi tahu, terkait profesi menjadi seorang penulis misalnya. Atau lebih sempitnya lagi menjadi seorang penulis puisi atau penyair. Apakah karena bakat untuk menjadi seorang penyair itu tidak menjanjikan? Ataukah penyair bukan sebuah profesi yang menghasilkan. 

Proses kepenyairan seseorang memang sangat lama. Sebab banyak hal yang harus dilalui secara emosional dan spiritual. Dari mulai masa usia Sekolah Dasar misalnya. Calon penyair minimal harus memiliki hobi membaca puisi. Menulis puisi-puisi yang secara kontekstual dan dekat dengan masa itu. Berbicara soal puisi. Sebenarnya. Puisi mengajarkan kita pada kebaikan, kelembutan hati, dan kebeningan jiwa. Teks-teks yang dihasilkan dari bait-bait puisi selalu melulu ada hikmah atau muatan isi yang baik untuk kemaslahatan manusia. 

Kini jika seseorang ingin secara utuh menjadi seorang penyair. Jadilah penyair yang pandai menempatkan posisinya. Ini memang penting. Banyak penulis atau penyuka puisi yang ingin secara instan menjadi seorang penyair. Kepenyairan seseorang pun harus juga dirasakan hasil karyanya atau gerakan kesusastraannya oleh masyarakat umum. 

Chairil Anwar, meskipun beliau banyak menulis untuk dirinya sendiri. Tetapi ia pun banyak menulis untuk orang lain. Puisi-puisi yang ia hasilkan banyak pula yang terinspirasi dari keadaan atau kondisi sosial ekonomi pada saat itu. Bahkan soal politik. Selebihnya banyak pula beliau menulis tentang perempuan-perempuan yang ia sukai atau ia kagumi. 

Menjadi penyair memang, gampang – gampang – susah. Artinya, mudah untuk menghasilkan karya, akan tetapi karya yang bagaimana dulu, karya yang baik memang harus dikaji terlebih dahulu dengan menggunakan kajian linguistik, citraan, gaya Bahasa, dan kandungan pesannya, dan banyak unsur lainnya yang harus teratur, sehingga puisi nyaman untuk dibaca, memiliki metafora yang kuat. Di sinilah posisi puisi sebagai salah satu karya seni melalui media kata-kata. 

Posisi seni bagi Marxis merupakan bagian dari “superstruktur” masyarakat yang menjamin situasi penguasaan satu kelas sosial atas kelas sosial lainnya yang dilihat sebagai sesuatu yang “natural” atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Memahami kesusastraan berarti memahami keseluruhan proses sosial, dimana kesusastraan itu sendiri menjadi bagian darinya. Walau merupakan bagian dari superstruktur, kesusastraan atau puisi tidak sekadar cerminan pasif dari basis ekonomi. 

Sudah jelas sekali, puisi memang hadir untuk masyarakat, salah satunya sebagai penambah seni yang secara estetika hadir sebagai bentuk yang secara “natural” tadi, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Hanya saja orang awam mungkin tidak menyadarinya secara detil. Tetapi bagi orang yang menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Setidaknya bisa turut berpikir, dan memahami keadaan di lapangan tersebut.

Kembali lagi dalam proses kepenyairan seseorang. Penyair hadir di tengah masyarakat melalui karyanya yang telah diakui secara berkala dan telah terakui. Sehingga karya-karya penyair tersebut bisa menjadi dasar atau penuntun dalam berkehidupan.  

Tentang ke-aku-an penyair. Saya berasumsi, bahwa penyair harus bisa hadir juga di media. Baik itu media cetak maupun daring dan tercetak juga di buku atau di koran atau majalah. Ini sangat penting. Keterlibatan penyair harus juga dekat dengan media publikasi. Jika tidak, siapa yang akan mengetahui karya kita.Siapa yang akan memandang karya kita, dan siapa yang akan belajar dari karya kita. Jika kita tidak menyelami media tersebut. selebihnya kita bisa mengedarkannya sendiri. Tentunya  dengan kualitas karya yang baik. Sesuai dengan apa yang telah kita pelajari minimal mengenai kelembutan puisi itu sendiri. (Ihsan Subhan)

*Jangan lupa! jika ingin copas tulisan di atas, mohon untuk menyertakan nama penulis dan sumbernya. Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menyoal Cita-Cita, Puisi, dan Proses Kepenyairan"

Post a Comment

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel