Traveling sambil Bersastra di Kuala Lumpur dan Johor Malaysia (Bag. 2)


Keindahan Pudu, Kuala Lumpur
Oleh Ihsan Subhan

Di Pudu, tepatnya di China Town atau Kampung China, saya menginap di Hotel bintang dua nama hotelnya The Sims Hotel. Dari nama hotel itu, teringat games the sims, yang sering dimainkan teman saya waktu SMA dulu. Hehe.

Sesampai di jalan Petaling, sebelum saya turun dari grab car, seorang supir memberikan saya saran, agar dompet di simpan di saku depan celana, dan menyarankan agar berhati-hati ketika sedang berjalan masuk ke Pasar Petaling. Waktu itu pasar petaling sangat ramai pada sore hari. Banyak yang berjualan di sana, mulai dari makanan, pakaian, dan pernak pernik hiasan atau mercendise Malaysia. Pasarnya tak lebih dari pasar malam yang biasa diadakan di Indonesia. Banyak tawaran diskon harga, dan ramainya penjual dan pembeli tengah bernegosiasi.

Pudu tengah malam, sekira pukul 11.00 waktu Malaysia, kalau di Indonesia skitar pukul 00.00 WIB
Dengan langkah yang agak menyeramkan dan aneh. Saya mencoba untuk tenang berjalan menuju pintu hotel. Kebetulan gerbang hotel depan dihalangi oleh tenant-tenant pasar. Orang-orang di sana beragam. Rasanya saya tidak sedang berada di Malaysia, hampir kebanyakan di sana orang-orang atau bangsa-bangsa China dan India. Antara kulit hitam dan putih bercampuran di sana. Apalagi bangsa  India di sana, tubuh-tubuhnya tinggi-tinggi dengan kulit hitam pekat, dan mata yang tajam, banyak beberapa orang memandang saya dengan aneh. Mungkin karena saya berbeda dari mereka dan terlihat sekali style orang Indonesia (mungkin).

Lima langkah sebelum masuk gerbang. Tiba-tiba ada lelaki India dengan pakaian lusuh dan robek, memanggil-manggil saya dengan panggila “hey. Come here”. Kira-kira yang saya dengar seperti itu, dan saya ketakutan betul pada waktu itu. Dengan langkah kaki agak dipercepat. Akhirnya sampai juga di pintu masuk hotel.

Untuk para traveler  Indonesia, jangan heran jika sesampai tiba di Kampung China, di sana didominasi oleh kebangsaan China dan India. Bahasa yang mereka pakai, kebanyakan memakai bahasa Inggris. Meskipun mereka sudah lama dan lahir di Malaysia. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.

Di lobi hotel, saya melihat ada percakapan yang begitu aneh, antara reseivesionist dengan tamu hotel. Setelah diselidiki ternyata, tamu hotel itu bisu, dan tidak bisa mendengar dengan baik. Katanya tamu hotel itu dari Thailand.

Saya memesan hotel dari Indonesia tiga hari sebelum keberagkatan. Saya menggunakan aplikasi booking.com. kenapa memilih di booking.com, karena aplikasi tersebut aman digunakan oleh para traveler untuk berpergian ke luar negeri, dan tidak seperti aplikasi tetangga sebelah dari Indonesia yang banyak  permasalahan pada saat check in. di booking.com dengan mudahnya saya bicara kepada receptionistnya. Dengan memberikan kode booking dan nama. Bahkan cukup dengan nama saja, sudah ketahuan pesanan kita. Tentunya, saya berbicara dengan bahasa Inggris, sebab bahasa Indonesia kurang begitu dimengerti dengan baik oleh perempuan penunggu tamu itu. Nah, inilah yang membuat saya merasa keren sendiri. Seperti di Eropa saja. Hahaha.

Sungguh mengejutkan juga, ketika saya tengah menunggu kunci digital saya, di lobi. Banyak tourist-tourist dari berbagai Negara di sana. Ada yang dari Belanda, Philiphina, Taiwan, SIngapura, Australia, Hongaria, dan Perancis. Saya mengetahuinya, karena, saya Tanya satu persatu. Haha. Hal itu saya lakukan, sebenarnya rasa penasaran yang besar dan ingin membiasakan diri bicara bahasa Inggris saja. Hehe.

Ok. Akhirnya saya bisa istirahat di kamar yang lumayan nyaman, dan fasilitas cukup memadai dengan harga hotel cukup mengeluarkan 30 RM.

Ikuti catatan perjalanan saya selajutnya ketika berada di negeri jiran bagian ketiga, (bersambung...)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Traveling sambil Bersastra di Kuala Lumpur dan Johor Malaysia (Bag. 2)"

Post a Comment

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel